Review Buku: Ihwal Sesat Pikir dan Cacat Logika
Judul : Ihwal Sesat Pikir dan Cacat Logika
Penulis : Fahruddin Faiz
Halaman : 224 Halaman
Penerbit : MJS Press
Ukuran : 13.5 x 20.5 cm
WHO?
"Siapa sih penulis buku ini?"
Dr. H. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag, doktor filsafat dari UIN Sunan Kalijaga yang saat ini merupakan dosen pada jurusan Aqidah dan Filsafat Islam di Universitas tersebut, dan juga menjadi dosen tamu di Universitas Sahid sejak 2016 hingga saat ini. Untuk yang sering menonton 'Ngaji Filsafat' di YouTube pasti sudah tidak asing dengan beliau, beliau aktif menjadi pemateri diskusi ngaji filsafat dengan gaya santainya yang menjadi ciri khas.
WHAT?
"Sebenarnya buku ini menjelaskan tentang apa sih?"
Buku Ihwal Sesat Pikir dan Cacat Logika, seperti yang jelas dituliskan di judul, membahas mengenai cognitive bias dan logical fallacy. Pada pendahuluannya, terdapat 5 pasal mengenai ihwal logika dan urgensinya. Yang pertama, manusia memiliki akal budi, harus mau dan mampu berpikir agar tidak tersesat oleh kekeliruan diri sendiri maupun orang lain. Kedua, jika kita ingin dapat berpikir runtut, jernih, dan dapat dipahami oleh orang lain, mempelajari logika adalah kuncinya. Ketiga, logika akan menunutun kita untuk berpikir secara benar, menemukan dasar keputusan yang paling masuk akal, dan mendeteksi cacat dalam mengambil kesimpulan. Keempat, logika merupakan penompang hidup manusia sepanjang sejarah dalam membangun peradabannya. Terakhir kelima, berpikir juga bisa salah, maka dari itu kita harus serius mempelajari logika, dan mengenali kesalahan-kesalahan dalam berpikir.
Pada bagian bias-bias dalam berpikir (cognitive bias), hal-hal yang akan dibahas adalah sebagai berikut :
- Action Bias
- Association Bias
- Availability Bias
- Bukan kausalitas, tapi korelasi
- Seolah lebih masuk akal
- Efek perbandingan
- "Engkau seperti aku"
- "Wajah manusia di planet mars"
- Framing
- Halo Effect
- "Haruskah berakit-rakit ke hulu?"
- Ilusi Kontrol
- Ilusi Ramalan
- Ilusi Model Iklan
- Information Bias
- "Jangan lihat hasilnya"
- "Jangan membayar pegawai per-kasus"
- "Jangan terikat oleh sesuatu"
- Kebetulan yang tak terhindarkan
- Kenyataan yang menjadi dongeng
- "Kembali biasa"
- "Mau bukti apa saja ada"
- "Diam saja biar tidak disalahkan"
- Endowment Effect
- "Merebus Katak"
- Hati-hati dengan pengecualian
- "Pengetahuan Supir"
- Self Selection Bias
- Self Serving Bias
- Social Proof
- "Sudah terlanjur membayar"
- Survivorship Bias
- "Tak ada yang gratis"
- False Dilemma, Argument from Ignorance, Slippery Slope, Complex Question
(Kesalahan karena Dilema) - Argumentum ad Baculum, Argumentum ad Misercordiam, Appeal to Consequences, Prejudicial Langeange, Argumentum ad Populum
(Kesalahan karena Salah Fokus) - Argumentum ad Hominem, Argumentum ad Verecundiam, Anonymous Authorities, Style Over Subtance
(Kesalahan karena Berbelok ke Orangnya) - Hasty Generalization, Unpresentative Sample, False Analogy, Slothful Induction, Fallacy of Exclusion
(Kesalahan karena Induksi) - Accident, Converse Accident
(Kesalahan karena Generalisasi) - Post hoc ergo propter hoc, Joint Effect, Genuine but Insignificant Cause, Wrong Direction, Complex Cause
(Kesalahan karena Kausalitas) - Begging the Question, Irrelevant Conclusion, Straw Man
(Kesalahan karena Kurang Bukti) - Equivocation, Amphiboly
(Kesalahan karena Ambiguitas) - Composition, Divisi
(Kesalahan karena Komposisi dan Divisi) - Affirming the Consequent, Denying the Antacedent, Inconsistency
(Kesalahan karena Non-Sequitur) - Too Narrow and Too Broad, Failure to Elucidate, Circular Definition Conflicting Conditions
(Kesalahan karena Definisi) - Anecdotal Evidence, Argumentum ad Antiquitatem, Argumentum ad Novitatem, Argumentum ad Crumenam, Argumentum ad Lazarum, Argumentum ad Logicam, Argumentum ad Populum, Argumentum ad Aucoritatis, No True Scotsman, Plurium Interrogationum, Reification/Hypostatization, Shifting the Burden of Proof, Argumentum ad Temperantiam
(Kesalahan Lain-lain)
WHY?
"Kenapa sih harus beli buku ini?"
Buku ini dapat menjelaskan mengenai cognitive bias dan logical fallacy dengan sangat sederhana, mudah dipahami, dan to the point. Bahasa dan contoh-contoh yang digunakan sangat relate dengan kehidupan kita sehari-hari serta argumen yang sering bermunculan di sekitar kita (untuk saat ini banyak kita temukan di media sosial).
HOW?
"Bagaimana kesan setelah membaca buku ini?"
Setelah membaca buku ini kita dapat mulai lebih berhati-hati saat berpikir atau berargumen, agar tidak tersandung kesalahan berpikir yang membingungkan. Selain itu, kita akan menyadari banyaknya (lebih tepatnya sangat banyak) cognitive bias dan logical fallacy dalam perdebabatan/argumen yang kita baca atau dengar, dengan begitu kita dapat membantu mengoreksi kekeliruan orang itu ataupun kita hanya cukup belajar agar tidak berargumen dengan kesalahan yang sama, karna justru banyak orang yang belum paham mengenai kesalahan berpikir dan kita akan berakhir dengan debat kusir.

Komentar
Posting Komentar