Wanita Itu

Wanita itu perlahan tenggelam di tengah keramaian, tidak satu perahu pun menjulurkan tali ataupun tangan mereka untuk membantu wanita itu, tidak pula menoleh walau hanya lirikan mata, mereka sibuk bersantai sembari menutup telinga. Tak lama wanita itu mulai meminta belas kasihan sambil tak hentinya menangis “Turunkan lah setidaknya kail! Berdarah pun tidak apa asal aku tetap hidup!”.

   Hening.

   Tenggelam lah Ia dalam lautan hitam legam, semakin jauh Ia tenggelam, maka semakin hilang pula cahaya yang menerangi, tidak ada lagi yang lebih hitam legam dan kelam selain lautan malam itu. Ia terus tenggelam semakin dalam. Ia mulai merasakan pedih detik demi detik, sampai Ia sadari bahwa Ia tidak juga menuju dasar lautan, layaknya tak berdasar, hanya ada kepedihan tak berujung.

   “Bagaimana bisa?”, tak lama Ia melihat sekelilingnya terdapat ikan-ikan yang bernafas, “bukan, itu bukan ikan” lanjutnya, “itu adalah manusia-manusia yang hidup di bawah air”. Mereka nampak berjalan seperti biasanya, seperti tidak ada yang janggal dari manusia yang hidup di bawah air, sedangkan wanita itu semakin lama semakin sesak tak kuat menahan pedihnya tenggelam dalam lautan hitam legam.

   Wanita itu mulai menyadari, bahwa manusia-manusia itu tidak hanya hidup di bawah air, mereka juga digerakan oleh kail-kail dan tali-tali yang menjulang tinggi ke permukaan air. Kail-kail dan tali-tali itu milik para nelayan perlente yang sedang bersantai di atas perahu emas mereka, mereka yang enggan mengulurkan tangannya untuk membantu wanita itu. Mereka yang ternyata tak kunjung merasa cukup dengan ikan-ikannya yang telah menggunung bahkan lebih tinggi daripada gunung.

   Wanita itu mencari kail dan tali tak berpenghuni, seperti katanya tadi, “Berdarah pun tidak apa asal aku tetap hidup!”.

   Hidup? Bukan kah hidup adalah menjadi manusia yang menentukan segala pilihan atas apa yang Ia benar-benar inginkan? Lantas, apa namanya jika hidup di bawah lautan hitam legam, bersama kail dan tali yang mengarahakan ke mana kau akan pergi dan di mana kau akan berakhir?

Komentar

BACA JUGA DI SEMESTADHIA